gai ikon mobil dunia. Kesukaannya pada hewan sejenis kumbang turut memberi andil akan konsepnya yang aneh dan begitu kontroversial.Bagaimana tidak, teknologi mesin yang diadopsi harus se sederhana mungkin hingga si pemilik dapat mereperasi sendiri kerusakannya. Selebihnya, mobil ini harus bisa dijual ke rakyat dengan murah (setara dengan harga sepeda motor pada jaman itu). Sudah tentu, ini jelas bukan pekerjaan yang mudah. Namun berkat tangan dingin Ferdinand Porsche, lahirlah kendaraan Vokswagen (mobil rakyat) pada era perang dunia pertama. Bahkan, Guinnes Book of Record pernah mencatatnya sebagai mobil paling terlaris di dunia.
VW Beetle
“Entahlah, tidak ada yang tahu kenapa di Indonesia, mobil ini lebih popular dengan sebutan VW kodok, padahal Beetle itukan berarti kumbang,” terang Harry, Manager Marketing Car & Cars.
Tak hanya itu, keberadaan VW Beetle turut men¬jadi saksi sejarah perjalanan otomotif di Indonesia. “VW Beetle masuk ke Indonesia sekitar penghujung era 60 an dan langsung banyak yang menggemarinya” terang Harry. Menurutnya lagi, bahkan pihak militer dan pemerintah yang paling banyak menggunakannya.
Trade mark
Ada 1001 alasan penggemarnya saat mengoleksi VW kodok ini. Mulai dari hobies hingga momen tersendiri bagi pemiliknya. A Khun misalnya. “Boleh dibilang hampir setiap weekend, saya sering keliling kota maupun luar kota. Hanya sekadar mengenang masa lalu,” ceritanya.
Menurutnya lagi, VW kodok ini terbilang unik bentuk maupun modelnya. “Lihat saja, bagasinya ada di depan sedangkan mesinnya justru malah dibelakang,” ucapnya. Selain menggemaskan, tak sedikit pula orang tertarik dengan historisnya. “Satu lagi, suara mesinnya benar benar sudah jadi trade mark VW kodok,” ucap pemilik VW Beetle putih tahun 1973 ini.
Untuk kemampuan mesinnya, tak usah diragukan lagi. Dijejali mesin empat silinder, boxer dan berpendingin udara membuat kendaraan ini mampu menjajal berbagai medan bahkan gurun pasir. “Meski klasik, tenaganya tidak kalah bila di jalanan menanjak,” ucap A Khun, seorang pemilik VW Beeatle. Menurutnya lagi, merawat mobil ini terbilang mudah asal rajin mengecek oli dan mengganti sparepart yang memang sudah layak untuk diganti.
Selama memiliki VW kodok, ada banyak kisah atau kejadian yang di alaminya. “Bahkan saya pernah ditungguin oleh seseorang berjam jam lamanya diparkiran, hanya untuk ngobrol soal VW kodok saja,” ungkap A Khun.
New Beetle
Ingin mengulang kesuksesannya, VW Beetle dihadirkan kembali dengan wajah baru dan meninggalkan kesan mobil rakyat meski mengacu pada bentuk asalnya. Reinkernasi ini justru mengarah pada mobil mewah yang melahirkan istilah retro design atau retro klasik.
Sejak diperkenalkan pada Detroit Auto Show 1994, New Beetle langsung diserbu penggemarnya dari seluruh dunia. “Walaupun tidak sama persis, tetapi wajah lucu dan baby face nya tetap mengingatkan kita dengan sang legenda. “Perbedaan utama dengan ‘saudara tuanya’ adalah posisi mesinnya yang sudah berada di depan seperti mobil pada umumnya,” jelas Harry.
Keunikan bentuk itu terletak pada tubuhnya yang nyaris tak memiliki konfigurasi segi empat, lazimnya yang dimiliki mobil mobil mewah. Desain eksteriornya yang bulat justru membuat ruang interiornya terkesan lega.
Tidak seperti pendahulunya, New Beetle menggunakan dua pilihan mesin, yakni mulai dari 2.0 liter dan 1.8 liter turbo dengan sistem transmisi manual dan matik. Dibekali pula dengan seperangkat piranti khas mobil modern seperti AC, airbag, rem ABS, power window, remote central locking, ESP (Electronic Stability Program) dan EDL (Electronic Differential Locking).
TAK heran, melekatnya nilai historis pada VW Beetle justru mejadikannya sebagai daya tarik yang luar biasa baik dalam dunia hiburan seperti film, kartun, musik maupun budaya pop. Diantaranya adalah film The Love Bug, di mana VW Beetle (Herbie) putih dengan nomor racing 53 menjadi ikonnya. Bahkan VW Beetle dianggap sebagai ladang bisnis baru dibidang aksesoris, baik berupa kaos, topi dan lainnya.
Bahkan, keberadaannya mampu mengusik sisi kreatif para seniman dunia yang melukiskannya pada dinding Tembok Berlin. Hasilnya, kendaraan itu terlihat seakan merobek dinding agar mobil dari Berlin Barat bisa masuk ke Berlin Timur.
Perbedaan utama dengan ‘saudara tuanya’ adalah posisi mesinnya yang sudah berada di depan seperti mobil pada umumnya.