Feeds:
Posts
Comments

Tulisan ini saya dapat dari keikutsertaan saya sebagai anggota milis, begitu baca langsung makjleb mengena banget. nggak tau apa karena kebetulan saya sedang berada di situasi yang sama dengan sang penulis atau bagaimana, yang pasti saya berharap semoga suatu saat saya bisa bertemu dengannya untuk  berterima kasih atas gambarunya ^^

Say YES to GAMBARU!
By Rouli Esther Pasaribu

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. 

Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : 
motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih  dan lebih lagi). 
Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. 

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya…berhenti aja.  Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) 

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”. Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu” 
(maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.). 

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!).  Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it’s a must! 

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi….juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. 

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. 

Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa “dimaafkan” jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan. 

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? 

Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. 
Jadi yang ada apaan dong? 

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV : 

  1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
  2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
  3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana
  4. Tips-tips menghadapi bencana alam
  5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
  6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana
  7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)
  8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
  9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :
  • ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
  • Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini;
  • Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas. 

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. 

Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. 

Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. 

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. 
Hanya, mental yang apa-apa “nyalahin” Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang… ..

I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. 

Kalau ditilik lebih jauh, “menyalahkan” Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. 

Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya  : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja. 

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau  amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. 

Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini. 
Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya. 

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin  sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. 

Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. 

Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. 

Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. 

Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga. 

Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : 

Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. 

(Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang). 

Say YES to GAMBARU!

*I took this article without editing process in content

1. The experience of living in a country with a culture which is totally different from your own. By this I mean just, in general, that living some time in a completely different culture will enrich your life a lot. It can be shocking and annoying at times, but also very interesting and stimulating. You learn things about life that you cannot learn without leaving the comfort of your own culture.

You don’t necessarily have to go live in Japan to experience another culture, you say? You are right, there are so many interesting countries in the world! But Japan is a special case. Japan has, throughout history, been a country which was basically isolated from the rest of the world for long periods of time. Through this it has developed very unique and interesting traditions. And, in addition to that, over the last half century, Japan has become the second economy in the world (now the third?).

Together, this results in a country that has old traditions one the one hand, yet is very technologically advanced on the other hand. I believe that this combination is unique in the world. Where else can you see old temples right in the middle of modern business districts? Where else can you see women wearing traditional Kimono on the subway? Where else do you see students walking around with their long bow for traditional archery? Only in Japan.

In that sense I feel that the cultural experience of living in Japan is more interesting compared to many other countries.

2. Japan is safe. Granted, lately there are many reports in the news about murders, abuse, and rapes. But compared to other developed countries, I still have the impression that Japan is a very safe country. The region around Tokyo and Yokohama is a huge metropolis where more than 30 million people live. Yet, you can walk around late at night alone without any problem. This is not something I would do in many parts of Paris, London, or New York, for example.

3. Japanese are correct, and polite. I don’t want to pretend that all Japanese are polite and have good manners (I know it is not true, I see many impolite people here every day), but in general people are polite, helpful and correct.

I also don’t want to say that Japanese are more polite than Western people, but I do feel that there is a different kind of politeness here. For example, people here in Japan will normally not hold open a door for someone else, and many Japanese do not cover their mouth with their hands when they cough or sneeze. These are both things that would be considered impolite in the West. But on the other hand I feel expressions of gratitude are much more polite here, and Japanese often think deeper about how they should behave in order to please (or not offend) other people.

You will have to accept that things are different here. But overall I think Japanese ar more polite (at least at the surface) than people in the West.

4. Great Japanese food. I think everyone has heard about Sushi and Sashimi by now. In Japan people refer to the recent increase in popularity of Japanese food abroad as “the Sushi boom”. While I like Sushi and Sashimi, Japan has much more to offer. Take Japanese “nabe”, “tonkatsu”, all kinds of “donburi”, noodles, Japanese sweets, osake, umeshu (plum whine), miso soup, all kinds of fish dishes, etc. Eating here is a pleasure, even at affordable prices.

5. Other culture and tourism. In Japan you can live in a wealthy country, with a living standard comparable to or higher than that of many Western countries, and at the same time enjoy an Asian culture.

This includes visits to various tourist spots all over the country. My personal number one favorite is of course Kyoto, the old capital of Japan. Kyoto has hundreds and hundreds of old temples, and is an absolute must for any visitor (long term or short term) of Japan. But there is much more. Nikko with its gorgeous and colorful temple complexes in the mountain forest, Kamakura, a “small Kyoto” with temples and a giant Buddha statue close to the beach, Yokohama with its China town and futuristic buildings, Nara with its huge Buddha statue and deer, and Tokyo, the capital of the country.

And don’t forget that Japan is a very long country, with plenty of snow to ski in the north in Hokkaido, all the way to tropical islands in the south in Okinawa.

But even without traveling around you can enjoy Japanese culture. There is Japanese food, as I mentioned above and Japanese arts, calligraphy, Bonsai, Wabi and Sabi, Japanese traditional sports like Karate, Judo, Kyudo, and so on. There is Noh and Kabuki theater, some might like anime and manga.

Source: http://robbyinjapan.hubpages.com/hub/Good-and-Bad-things-about-Living-in-Japan

The aim of the present study was to show a relationship between toxicity of 100-fold concentrated water and aquatic habitat conditions. Environmental waters are 100-fold concentrated with solid-phase extraction. Medaka early fry was exposed in these waters for 48 h. The number of death and disorder was counted at 1, 2, 3, 6, 12, 24, and 48 h; toxicity was expressed using inverse median effect time and median lethal time (ET50−1, LT50−1). Average score per taxon (ASPT) for benthic animals and Index of Biotic Integrity (IBI) for fish were applied as indices of aquatic habitat conditions. The results of toxicity test were compared using ASPT and IBI. The different levels of toxicity were detected in the seawater of Japan. At the Husino River area, toxicity cannot be detected. In rivers, high toxicity appeared at urban districts without sewerage. By Spearman coefficient, the relationship between toxicity and high biochemical oxygen demand (BOD) were obtained. BOD household wastewater contains hydrophobic toxic matters; otherwise, seawater in industrial area does not show clear relationship between toxicity and chemical oxygen demand. Gas chromatography to mass spectrometry simultaneous analysis database may give an answer for the source of toxicity, but further test is required. Ratio of clear stream benthic animal sharply decreased over 0.25 of LT50−1 or 0.5 of ET50−1. Tolerant fish becomes dominant over 0.3 of LT50−1 or 0.5–1.0 of ET50−1. By Pearson product–moment correlation coefficient, correlation coefficient between toxicity and ASPT was obtained at −0.773 (ET50−1) and −0.742 (LT50−1) at 1 % level of significance with a high negative correlation. Toxicity (LT50−1) has strong correlation with the ratio of tolerant species. By Pearson product–moment correlation coefficient, correlation coefficient between toxicity and IBI obtained were −0.155 (ET50−1) and −0.190 (LT50−1) at 1 % level of significance and has a low or no correlation between toxicity and IBI. Even with low toxic environmental waters, toxicity test using 100-fold concentrated and medaka early fly could detect acute toxicity. The detected toxicity seemed to limit the inhabiting aquatic species in the water body.

 

(H. Yamashita · R. Haribowo · M. Sekine · A. Kanno · T. Higuchi  · T. Imai · K. Yamamoto · N. Oda · Y. Shimono · W. Shitao)


The Volkswagen Type 1 automobile, also known as the Volkswagen Beetle, is known colloquially by various names in different countries, usually local renderings of the word “beetle”. Among these are:

  • Käfer in Germany, Austria and Switzerland
  • Pichirilo in Ecuador
  • Pulga (“Flea”), or “Escarabajo” (“Beetle”) in Colombia
  • Coccinelle (ladybug) in Algeria
  • Kever in Belgium
  • Vocho, Vochito or Volcho in Mexico and Colombia (mostly a shortening of “Volkswagen”; Vochito is affective diminutive)
  • Fusca in Brazil and Paraguay
  • Escarabajo (meaning “Beetle”) in Argentina, Chile, Colombia, Paraguay, Peru, Spain, Uruguay, El Salvador, Costa Rica and Venezuela
  • Peta (“turtle”) in Bolivia
  • Folcika, or Buba (Bug) in Bosnia and Herzegovina
  • Sedan, then Fusca (popularly, Fusquinha that means Little Fusca) in Brazil
  • Косτенурка (Kostenurka) (meaning turtle) or Бръмбар (Brambar) (meaning beetle) in Bulgaria
  • Bug, Beetle, Choupette (Herbie’s name in the French version of the movies) or Coccinelle (ladybug) in Canada
  • Escarabat (means “beetle”) in Catalan
  • Poncho in Chile
  • Jiǎ Ké Chóng (甲壳虫) (means “beetle”) in China
  • Buba in Croatia
  • Brouk in Czech Republic
  • Boblen (the bubble), Bobbelfolkevogn (a distortion of ‘the bubble’ and a translation of ‘Volkswagen’, the people’s car), gravid rulleskøjte (pregnant rollerskate) or Hitlerslæden (The Hitler-sled) in Denmark
  • Cepillo (“Brush”) in Dominican Republic
  • خنفسة – Pronounced khon-fesa (Beetle in Arabic) in Egypt
  • Fakrouna (“Tortoise”) in Libya.
  • Põrnikas (means “beetle”) in Estonia
  • Kuplavolkkari or just Kupla (kupla meaning bubble) in Finland
  • Coccinelle (ladybug) in France, Quebec and Haiti
  • Буба (means “beetle”) in the Republic of Macedonia
  • Jin-guei che (金龜車) in Taiwan
  • Σκαθάρι (Scathari meaning beetle), Σκαραβαίος (Scaraveos meaning Scarab), or Χελώνα (Chelona meaning Turtle) in Greece
  • Cucaracha or Cucarachita (Cockroach or little cockroach) in Guatemala, El Salvador and Honduras.
  • Bogár meaning bug in Hungary.
  • Bjalla in Iceland
  • Beetle in India
  • Kodok (frog) in Indonesia
  • Ghoorbaghei (قورباغه ای) meaning Frog in Persian Iran
  • Agroga عكروكة (froggy)or Rag-gah ركـّة (small turtle)in Iraq
  • חיפושית (“Hipushit,” beetle) or Bimba in Israel
  • Maggiolino (may bug, cockhafer) or the unofficial name of Maggiolone (can indicate Super Beetle) in Italy
  • Kabuto-mushi (カブトムシ) (means “drone beetle”) in Japan
  • Kifuu in Kenya
  • Vabole in Latvia
  • Vabalas in Lithuania
  • Kura (turtle) or Kodok (frog) in Malaysia
  • Sedán, Pulguita (little flea), Vocho or Vochito (sometimes spelled “bocho/bochito”) in Mexico
  • Scoro-Scoro in Namibia
  • Bhyagute Car in Nepal literally: “Frog Car”.
  • Kever in the Netherlands
  • Boble (bubble) in Norway
  • Foxi or Foxy in Pakistan
  • “Pendong”, kotseng kuba (literally, ‘hunchback car’), “pagong” (turtle),”Ba-o”, (turtle in Cebuano dialect), or “Boks” in the Philippines
  • Garbus (literally, ‘Hunchback’) in Poland
  • Carocha in Portugal
  • Volky in Puerto Rico
  • Broasca / Broscuţă (little frog/froggy) or Buburuza (ladybird) in Romania
  • Фольксваген-жук (Folksvagen-zhuk) in Ukraine
  • Жук (Zhuk) (Bug) also in Russia (Former Soviet Union)
  • Буба or Buba in Serbia
  • Volla, Kewer, Volksie – Pronounced Folla in South Africa
  • Chrobák in Slovakia
  • Hrošč in Slovenia
  • Volks / Beetle/ ibba (turtule) in Sri Lanka
  • Mgongo wa Chura” (Frog Back) or Mwendo wa Kobe” (Tortoise Speed) in Swahili
  • Bagge (short for skalbagge, beetle), bubbla (bubble) or folka in Sweden and Finland
  • Kobe in Tanzania
  • รถเต่า – Pronounced Rod Tao (turtle car) / โฟล์คเต่า (Volk Tao) in Thai
  • Kaplumbağa or tosbağa (meaning turtle) or “vosvos” in Turkey.
  • Con Bọ in Vietnam
  • Bhamba datya in Shona – Datya is frog in the vernacular from Zimbabwe
  • Tortuga in Panama
  • Escarabajo, Bocho o Rana in Perú
  • Kupla (Bubble) in Finland
  • Цох in Mongolia
  • Escarabajo (Beetle) and popularly Fusca or Fusquita in Uruguay
  • Volkswagen (pronounced: Folghswaghen) in South African

Vespa 150 Sprint


Dikeluarkan pada tahun 1965 hingga 1974, Vespa 150 Sprint merupakan generasi awal dari serie ini. Menggunakan salah satu keluarga mesin klasik 145.55 cc dengan penambahan cukup signifikan dalam hal kekuatan yaitu melalui besaran daya angkut yang diselaraskan dengan kecepatannya.

Kerangka body Vespa 150 Sprint sama dengan produk untuk Vespa GL, namun dengan sentuhan warna baru yakni silver metalik. Di sayap (fender) bagian kanan tersemat kata Vespa Sprint tersusun miring dua baris dengan style italic handwritting terbuat dari sejenis campuran alumunium yang berefek kebiru-biruan. Begitupun halnya dengan kata dibagian belakang, tertulis 150 Sprint tersusun miring satu baris yang berbahan serta material sama seperti bagian depan dan terletak agak diatas lampu bagian belakang.

Terdapat striping lurus terbuat dari alumunium pada bagian spakbor depan, box bagasi dan box mesin yang sejajar di kiri kanannya. Dengan kunci stang berbentuk oval, Vespa 150 Sprint menggunakan 2 jenis jok sesuai dengan permintaan yaitu model jok (sadle) ganda (pengendara dan penumpang) berwarna biru tua maupun dan jok panjang (single-seater).

Adapun bagian-bagian yg berlapis krum adalah baut gagang rem depan dan gagang kopling, klakson, rumah lampu belakang, ring lampu depan, kunci stang, tutup kunci stang dan kunci tutup box bagasi. Lapisan berwarna seng terdapat pada bagian-bagian seperti standar, shock bagian depan, seluruh baut dan mur serta tutup bak kopling.

Sementara itu bagian yg beraksen posfor meliputi shock bagian belakang termasuk per, baut dan murnya, serta per bagian depan. Sentuhan metal halus terdapat pada bagian gagang rem depan dan kopling, pedal rem belakang, gantungan barang, kuku macan, jengger depan, selahan, kunci (pengkait) box mesin, gagang kran bensin, dan lis sayap depan. Bagian yg bernuansa stainless adalah rumah saklar dan lis karpet tengah yang terbuat dari karet.

Dengan stang (handlebar) model kotak seperti GL dan Super serta speedometer oval, adapun nomor serial body Vespa 150 Sprint terukir dibagian kiri dibawah box bagasi dengan kode VLB1T 1001-VLB1T 1205477 dan nomor mesin di bagian paha ayam mesin dekat pipa saluran knalpot diawali dengan kode VLB1M. Bagian-bagian lain yg memiliki warna berkesan alumunium meliputi velg, tromol depan dan belakang, tutup kipas, fork depan. Sementara itu warna lapisan anti karatnya adalah abu-abu.

Seiring dengan meningkatnya taraf hidup dan aktifitas manusia di berbagai sektor akan mengakibatkan munculnya berbagai permasalahan, khususnya permasalahan yang menyangkut masyarakat dan lingkungan. Peningkatan jumlah penduduk akan berdampak terhadap keberadaan lingkungan dimana tempat mereka beraktifitas. Dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi mengakibatkan bertambahnya volume sampah. Di samping itu, pola konsumsi masyarakat memberikan kontribusi dalam menimbulkan jenis sampah yang semakin beragam, antara lain, sampah kemasan yang berbahaya dan/atau sulit diurai oleh proses alam.

Selama ini sebagian besar masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan. Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah.

Permasalahan persampahan yang sudah mengemuka secara nasional, secara umum banyak didominasi oleh wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan TPA sehingga dampak yang akan timbul adalah pencemaran lingkungan dan timbulnya friksi antar kota. Meskipun demikian, sampai saat ini permasalahan persampahan masih terus berlanjut. Upaya perbaikan yang telah dilakukan oleh berbagai pihak masih belum menunjukan hasil yang signifikan. Demikian juga yang berkaitan upaya pengurangan volume sampah yang harus dibuang ke TPA melalui program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) masih belum dilaksanakan secara sungguh-sungguh, karena sulitnya melaksanakan perubahan perilaku masyarakat dalam pemilihan sampah.

Pengurangan sampah dengan program 3R memang bukan hal mudah untuk dilakukan karena akan sangat bergantung pada kemauan masyarakat dalam merubah perilaku, yaitu dari pola pembuangan sampah konvensional manjadi pola pemilah sampah. Untuk itu diperlukan berbagai upaya baik langsung maupun tidak langsung, seperti antara lain:

  • Percontohan program 3R
  • Penyuluhan
  • Pemberdayaan dan pendampingan masyarakat
  • Pendidikan

Untuk menghemat lahan TPA serta memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi seperti organik untuk kompos dan sampah yang masih bisa didaur ulang seperti kertas, plastik, kaleng dll, sehingga perlu dilakukan kegiatan awal pemanfaatan sampah dengan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Mengingat keberhasilan program 3R sangat ditentukan oleh partisipasi dan peran serta masyarakat sebagai penghasil sampah, maka perlu dikembangkan pengelolaan sampah dengan konsep berbasis masyarakat (3R).

Perencanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat merupakan langkah awal dalam pelaksanaan  kegiatan. Perencanaan ini merupakan dasar dalam pengelolaan sampah baik skala individual maupun skala kawasan. Untuk itu perlu disusun suatu pedoman perencanaan. Pedoman perencanaan ini meliputi seleksi kota/kabupaten, seleksi calon lokasi, survey lapangan, analisa, pemilihan teknologi, pemilihan fasilitator, penyusunan rencana kerja, penyusunan peraturan, kelembagaan, pembiayaan, peran serta masyarakat. Selain itu, bantuan teknis pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat berisikan tentang perencanaan pembangunan, operasi dan pemeliharaan, monitoring dan evaluasi, serta pengembangan dan replikasi. Selanjutnya, kegiatan pengurangan sampah sejak dari sumbernya akan dilakukan dengan mengedepankan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat secara lebih memadai dan diharapkan dapat menjadi gerakan moral nasional.

Peraturan perundang-undangan yang dapat dijadikan sebagai acuan normatif dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai berikut:

  1. Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
  2. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
  3. Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 tentang Tata Ruang, pasal 3 ayat (3) butir d dan 3, pasal 5 ayat (1) dan pasal 14 ayat (1) butir b.
  4. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 1 ayat 16, pasal 20 ayat (1), (2), dan (4).
  5. Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, pasal 7 ayat (2), pasal 11 ayat (2), pasal 89 ayat (1) dan (2).
  6. UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.
  7. UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
  8. UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
  9. PP No. 16 Tahun 2004 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.
  10. Peraturan Menteri No. 294/PRT/M/2005 tentang BPPSPAM (Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum).
  11. Peraturan Presiden No. 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2005-2009;
  12. SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan.

Kita itu memang harus punya keberanian untuk merantau. Sebab, dengan keberanian merantau, kita akan lebih bisa percaya diri dan mandiri.

Sehingga, hal itu akan membuat kita tergantung dan tidak mandiri. Akibat dari itu sangat jelas, kita mudah patah semangat atau putus asa. Tidak berani menghadapi tantangan atau risiko bisnis. Kita pun akan mudah tergantung pada orang lain.

Tapi beda halnya. kalau kita berani merantau. Hal itu berarti kita siap menjadi “manusia baru”. Kita harus siap menghadapi lingkungan baru, yang barangkali tak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Dan, jika saat dulu kita belum tahu apa sebenarnya kelemahan kita, maka dengan merantau hal tersebut bisa diketahui. sedikit demi sedikit kelemahan tersebut akan kita perbaiki di tanah perantauan. Itulah sebabnya mengapa saya yakin, keberanian merantau yang membuat kita punya jiwa kemandirian itu, akan membuat kita lebih percaya diri dalam setiap langkah dalam bisnis maupun karier.

Jadi singkatnya, merantau itu akan membuat kita berjiwa “tahan banting”. Katakanlah, kalau usaha kita ternyata jatuh dan gagal, kita tidak terlalu malu, toh itu terjadi di kota lain. Dengan kata lain, berusaha di kota lain akan mengurangi beban berat, bila dibandingkan dengan merintis bisnis di kota kita sendiri.

Selain itu, keberanian merantau ke daerah lain, atau bahkan negara lain, akan membuat kita dapat menyelesaikan persoalan sendiri. Bahkan, kita akan merasa tabu terhadap bantuan orang lain. Kita ada rasa untuk tidak mau punya hutang budi pada orang lain.

Oleh karena itulah, saya berpendapat, bahwa sesungguhnya ke-mandirian itu adalah semangat paling dasar dari kita untuk bisa meraih kesuksesan. Dan, alangkah baiknya jika sikap mandiri semacam itu bisa kita bentuk sejak kita masih sekolah.

Maka, jika kita ingin menjadi seseorang yang mampu meraih sukses dan “tahan banting”, salah satu kuncinya adalah kemandirian itu sendiri. Dan, kemandirian akan muncul jika kita berani merantau. Buktikan sendiri.